I'm Agustin Nurul

Sustainability Enthusiast

Rabu, 18 April 2018

Catatan Ramashan : Prioritas Kayaknya

Prioritas katanya..
Minta didahulukan.. minta diutamakan..
Tak peduli yang lain.. selama mereka masih ada.. selama mereka masih bisa ditunda.. dahulukan aku.. begitu katanyaa..
Mungkin bagi sebagian orang yang katanya *sibuk.. prioritas tak hanya satu..
Banyak hal yang minta diprioritaskan..
Yaa kita manusia.. tak mungkin bukan berbuat adil seadil adilnya..
Pasti ada yang merasa dinomorduakan.. entah kita sadar atau tidak.. entah kita sengaja atau tidak..
Lalu apa sebenarnya prioritas itu?
Apakah sesuatu yang disukai bisa disebut prioritas?
Bagi sebagian orang bisa saja dia berkata iya..
Bagi sebagian lain mungkin saja berkata tidak..
Mungkin bagi mereka yang katanya *profesional.. mereka menyukai prioritas mereka.. entah sadar atau tidak.. entah terpaksa atau tidak..
Entahlah.. mungkin otakmu dan otakku berada di jalur yang berbeda tentang prioritas..
Lalu bolehkah aku berkata bahwa yang layak untuk diprioritaskan adalah yang nantinya mau memprioritaskan kita?
Yaa.. mungkin otakku memilih definisi itu..
Yang layak diprioritaskan itu..
Yang mau memprioritaskan kita besok dan seterusnya..
Yang mau menemani kita besok dan seterusnya..
Yang mau menjaga kita besok dan seterusnya..
Yang mau..
Yang mau menjamin kita selamat besok dan seterusnya..
Duh kejauhan.. yang ada sekarang aja dulu..
Yaa sedikit komentar itu pasti muncul..
Memang.. yang ada sekarang prioritaskan..
Menuntut ilmu misalnya..

Kuliah.. sebuah investasi yang anggaknya terlihat besar mewah dan patut diperjuangkan..
Lalu bagaimana prosesnya?
Apakah ia tidak dinilai?
Tentu saja dinilai.. tak hanya oleh pengamat akademika.. ya pengamat dari Yang Maha Kuasa pun ikut campur dalam setiap prosesnya..
Bisa jadi investasi yang luar biasa jika prosesnya baik.. bisa jadi ancaman yang luar biasa berat pula jika prosesnya salah..
Lalu sebenarnya apa yang dicari?
IPK 4?
Presensi 100%?
Lulus tepat waktu?
Prestasi akdemik non akademik yang membumbung tinggi hingga layak dipersombongkan?
Atau sekedar lulus dan mendapatkan gelar?
Terlalu dini buat w ngmongin beginian..
Yaa karena kujuga masih mahasiswi yang kadang peduli dan kadang pula tak peduli dengan semua itu..
Tapi tak mau juga terlambat w menyesali..

Lalu sebenarnya dimana prioritas yang layak untuk diprioritaskan?
So.. celoteh sedemikian panjang inilah yang sebenarnya hanya sebuah ungkapan tak begitu penting tentang prioritas

There is no OUTPUT without INPUT.

0 Comments:

Posting Komentar

What clients say

Start Connect With Me

Contact Us

Agustin Nurul
@agustinurul
Banyuwangi,Indonesia