Reviewnya Agust #2 A Cup of Tea - Gita Savitri Devi
A Cup of Tea.. judul bukunya sama kayak judul blognya gitasav..
sebelum baca bukunya udah baca blognya duluan sih.. blognya gitasav jadi salah
satu referesiku juga buat ngisi blogku.. isinya apa adanya sesuai yang punya... wkwk
Oke lanjut ke review bukunya.. sama seperti buku pertamananya
si Rentang Kisah.. buku ini juga menceritakan another kisah yang menarik dari
kehidupan gitasav.. momen-momen menarik ketika ketemu orang baru dan tempat
baru didokumentasikan gitasav dengan epic di buku ini.. ya seperti catatan perjalanan
yang ditulis buat kembali dikenang ketika baca ulang..
Di awal juga diceritakan tentang pencarian gitasav terhadap
diri sendiri.. melalui semua perjalanan yang ditulisnya, gitasav mencari siapa dia
sebenarnya.. walaupun sesekali emang
insecure sama hidupnya sendiri tapi ada bagian di buku ini yang bikin dia terus
berjalan salah satunya dari pertanyaan yang dia lontarkan untuk dirinya
sendiri.. “Apakah tuhan nggak punya maksud ketika menciptakan gue ke dunia?”
gitu katanya..
Satu hal yang menarik ketika gitasav ikut dalam salah satu
seminar yang mengharuskan dia menggambarkan dirinya dalam 2 kata.. dan dia
menulis “independent and curious” .. merasa sedikit relate sih wkkw.. jadi
inget ketika Raditya Dika pernah bilang ketika Istrinya berdoa semoga anaknya
jadi anak pintar, dia nggak terlalu pingin anaknya jadi anak pintar tapi dia
pingin anaknya jadi anak yang curious, penasaran.. karena dengan penasaran, dia
pingin tahu dan pasti nyari tahu karena menjadi penasaran itu ganggu banget ketika
belum kelar rasa penasarannya.. gitu katanya.. dan aku setuju wkwk..
Untuk bagian yang jadi independent ada satu kalimat menarik di buku
ini
There is something satisfying about being independent
–gitasav
Hal lain yang dibahas gitasav di sini adalah masalah
empati... ketika hidup mengujinya dengan berat lalu seorang teman yang tanpa
sadar nanyain kabarnya gimna dan ternyata cuma itu yang dibutuhin buat tetap
lanjutin hidup.. sekedar ditanya kabarnya aja.. dan disini gitasav bilang bahwa
temennya itu membuktikan bahwa kita nggak harus punya pengalaman personal buat
empati ke orang lain.. kita cuma butuh memanusiakan manusia.. bhewww..
Untuk topik insecurity disini sempat disinggung 5 rahasia Bill Gates agar tetap bahagia:
1. Bicara dengan versi masa depan diri kita
2. Berkomitmen dengan apa yang direncanakan
3. Berkontribusi ke masyarakat
4. Olahraga rutin
5. Mendahulukan cinta
tapi gitasav lebih relate dengan 12 peraturan ala Jordan
Peterson terutama peraturan no 4 yang adalah
Compare yourself with who you were yesterday, not with
someone else today
Dan lagi.. aku setuju wkwk.. karena,
Kita nggak akan pernah merasa bahagia jika kita
menggantungkan perasaan itu pada faktor eksternal. –gitasav
Yang epic dari ending buku ini adalah gitasav merefleksikan
akhir dekadenya.. dia menceritakan momen-momen terburuknya selama dekade
teakhir hidupnya dan lalu menceritakan momen-momen yang ia syukuri juga di
dekade terakhirnya.. aku suka sih bagian ini.. karena jujurly aku lebih suka
refleksi daripada planing wkwk.. harusnya seimbang sih ya.. tapi emang siapa
yang mengharuskan? Idelisme society wkwk
Intinya buku perjalanan hidup kayak gini nggak pernah salah
sih buat dibaca.. ya soalnya sutradara dan penulis skenarionya bukan manusia...
tapi Yang Maha Kuasa.. selalu worth it buat dibaca.. buat diambil
pelajarannya..
Sekian dulu review kali ini, sampai ketemu di review ala ala
selanjutnya, Insyaallah..

0 Comments:
Posting Komentar